NUnomics KH. Nasaruddin Umar: Gagasan Ekonomi yang Menempatkan Moralitas di Atas Profit

Jakarta, – Setelah istilah Jokowinomic yang lekat dengan agenda pembangunan dan Prabowonomic yang menekankan kemandirian ekonomi, kini muncul NUnomics melalui pemikiran KH. Nasaruddin Umar. NUnomics menawarkan cara pandang ekonomi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan dan keuntungan, tetapi juga menempatkan etika, keadilan, moralitas, dan kemanusiaan sebagai fondasi dalam membangun sistem ekonomi yang inklusif.

NUnomics tidak sekadar berbicara tentang bagaimana ekonomi tumbuh, tetapi juga tentang bagaimana pertumbuhan tersebut dijalankan dan untuk siapa manfaatnya diberikan. Jika pembangunan dan kemandirian menjadi penekanan dalam dua istilah sebelumnya, NUnomics membawa dimensi moral ke dalam cara melihat aktivitas ekonomi. Ekonomi dipandang bukan hanya sebagai mekanisme menghasilkan kekayaan, melainkan sebagai instrumen untuk menghadirkan kehidupan masyarakat yang lebih adil dan bermartabat.

Moralitas sebagai Fondasi Ekonomi

Prinsip “Moral Over Profit” menjadi salah satu pijakan utama. Keuntungan tetap penting karena merupakan bagian dari keberlangsungan kegiatan ekonomi. Namun, profit tidak boleh mengalahkan nilai keadilan.

Dalam kerangka ini, profit adalah hasil, sedangkan moral adalah fondasi. Keberhasilan ekonomi karena itu tidak cukup diukur melalui besarnya keuntungan, pertumbuhan industri, atau peningkatan kekayaan, tetapi juga melalui dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi idealnya mampu memperluas kesejahteraan, membuka kesempatan, dan memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih adil.

Cara pandang tersebut menempatkan manusia sebagai bagian penting dari tujuan ekonomi. Negara memang membutuhkan pertumbuhan, investasi, industri, dan aktivitas perdagangan yang kuat, tetapi seluruh aktivitas tersebut pada akhirnya harus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ekonomi Syariah yang Inklusif

Prinsip berikutnya adalah “Universal Access”, yang menempatkan ekonomi syariah sebagai sistem yang terbuka bagi semua orang. Ekonomi syariah tidak harus dipahami hanya sebagai kebutuhan umat Islam, tetapi juga dapat menawarkan prinsip-prinsip universal dalam membangun transaksi yang adil, transparan, dan terbuka.

Semangat Rahmatan lil ‘Alamin menjadi landasan penting dalam pendekatan tersebut. Nilai keadilan, transparansi, tanggung jawab, dan kemaslahatan tidak memiliki batas identitas. Prinsip-prinsip itu dapat menjadi bagian dari upaya membangun hubungan ekonomi yang sehat di tengah masyarakat yang beragam.

Maka dari itu, ekonomi Islam dapat mengambil peran yang lebih luas. Bukan hanya menjadi alternatif bagi masyarakat Muslim, tetapi juga memberikan kontribusi pemikiran terhadap penciptaan sistem ekonomi yang lebih manusiawi, berkeadilan, dan inklusif.

Mempertemukan Fikih Muamalah dan Ekonomi Modern

Pengembangan NUnomics juga membutuhkan kolaborasi lintas disiplin ilmu, khususnya antara fikih muamalah dan ekonomi modern. Keduanya memiliki ruang yang dapat saling melengkapi dalam menghadapi perkembangan ekonomi yang semakin kompleks.

Fikih muamalah memberikan landasan nilai dan prinsip dalam hubungan ekonomi, sementara ekonomi modern menyediakan perangkat untuk memahami dinamika pasar, produksi, investasi, teknologi, dan berbagai perkembangan ekonomi kontemporer. Pertemuan keduanya diharapkan mampu melahirkan inovasi sekaligus sumber daya manusia yang unggul.

Kolaborasi semacam ini menjadi penting karena persoalan ekonomi masa kini tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu sudut pandang. Perkembangan teknologi, perubahan model bisnis, digitalisasi transaksi, dan dinamika ekonomi global membutuhkan kemampuan untuk mempertemukan nilai, pengetahuan, dan inovasi.

Ekonomi yang Bertumbuh dan Berkeadilan

NUnomics diarahkan untuk menghadirkan ekonomi Indonesia yang bertumbuh, berkeadilan, bermoral, dan inklusif. Pertumbuhan tetap menjadi bagian penting, tetapi tidak ditempatkan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Ekonomi yang kuat harus berjalan bersama keadilan dan moralitas. Kekayaan yang semakin besar tidak akan memiliki makna yang utuh apabila ketimpangan semakin melebar atau masyarakat tidak memperoleh kesempatan yang layak untuk meningkatkan kehidupannya.

Karena itu, ukuran keberhasilan ekonomi perlu diperluas. Bukan hanya seberapa besar negara mampu menghasilkan kekayaan, tetapi juga seberapa jauh kekayaan tersebut mampu menciptakan kehidupan yang lebih adil dan bermartabat.

KH. Nasaruddin Umar menegaskan:

“Ekonomi yang hebat bukan hanya membuat negara lebih kaya, tetapi membuat masyarakat hidup lebih adil dan bermartabat.”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa profit bukanlah tujuan yang berdiri sendiri. Keuntungan diperlukan untuk menjaga keberlanjutan ekonomi, tetapi moralitas menjadi batas sekaligus arah agar keuntungan tidak mengorbankan keadilan dan kemanusiaan.

Dalam jangka lebih panjang, pendekatan ini diarahkan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi Islam dunia. Ambisi tersebut tidak hanya membutuhkan kekuatan ekonomi, tetapi juga ekosistem yang mampu menggabungkan inovasi, sumber daya manusia, nilai keislaman, dan prinsip ekonomi modern.

NUnomics menempatkan ekonomi sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih sejahtera sekaligus bermartabat. Pertumbuhan ekonomi tetap diperlukan, tetapi pertumbuhan yang ideal adalah pertumbuhan yang memiliki arah, berpijak pada moralitas, memberikan akses secara luas, dan menghasilkan manfaat yang lebih adil bagi masyarakat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*