Stafsus Menag Tekankan Pendidikan Karakter dan Ekoteologi di KPMP 2026

Gowa, – Staf Khusus Menteri Agama Bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan, dan Moderasi Beragama, Prof. Dr. H. M. Farid F. Saenong, Ph.D., menekankan pentingnya pendidikan karakter dan penguatan ekoteologi bagi generasi muda madrasah. Pesan tersebut disampaikan saat membuka Kemah Pramuka Madrasah Provinsi (KPMP) 2026 di Bumi Perkemahan Cadika Limbung, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu, 2 September 2026.

KPMP 2026 berlangsung selama empat hari, 2-5 September 2026, dengan melibatkan 2.389 peserta dari madrasah se-Sulawesi Selatan. Mereka terdiri atas 1.089 Pramuka Penggalang dan 1.300 Pramuka Penegak, serta didukung sekitar 2.800 pembina, pendamping, dan unsur pendukung lainnya.

Dalam amanatnya sebagai Pembina Upacara, Farid menempatkan pendidikan kepramukaan sebagai ruang pembentukan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan keterampilan, tetapi juga karakter, akhlak, rasa kebangsaan, serta kepedulian terhadap lingkungan.

“Nilai-nilai yang terkait dengan kebangsaan harus berjalan beriringan dengan nilai-nilai keagamaan. Keduanya harus menjadi satu kesatuan dalam membentuk generasi muda yang memiliki karakter kuat,” ujar Farid.

Menurutnya, nilai keagamaan dan kebangsaan bukan dua hal yang perlu dipertentangkan. Keduanya dapat menjadi fondasi dalam membentuk generasi yang memiliki keimanan, integritas, tanggung jawab, sekaligus kesadaran sebagai bagian dari kehidupan berbangsa.

“Anak-anak madrasah harus menjadi generasi yang kuat dalam nilai keagamaannya sekaligus memiliki rasa kebangsaan yang kuat. Karena menjadi generasi yang baik bukan hanya tentang bagaimana kita beragama, tetapi juga bagaimana kita hidup bersama sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” jelasnya.

Farid menilai Gerakan Pramuka memiliki ruang yang strategis untuk menerjemahkan nilai-nilai tersebut melalui pengalaman langsung. Kedisiplinan, kemandirian, kerja sama, kepemimpinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama tidak hanya dipelajari sebagai pengetahuan, tetapi dipraktikkan dalam berbagai kegiatan selama perkemahan.

Karena itu, ia meminta peserta memanfaatkan KPMP sebagai proses belajar yang melampaui kegiatan seremonial dan perlombaan. Pengalaman selama perkemahan diharapkan membentuk kebiasaan yang dapat diterapkan kembali di madrasah, keluarga, maupun lingkungan masyarakat.

“Jadikan kemah ini sebagai ruang belajar, ruang membangun persahabatan, ruang mengembangkan karakter, dan ruang untuk belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab,” pesannya.

Selain pendidikan karakter, KPMP 2026 memberikan perhatian pada ekoteologi. Pendekatan ini menempatkan kepedulian terhadap alam sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan manusia. Bagi Farid, kesadaran lingkungan perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda memahami bahwa menjaga alam memiliki hubungan dengan nilai yang mereka pelajari dan amalkan dalam kehidupan beragama.

Penguatan ekoteologi tersebut tidak berhenti pada pemahaman konseptual. Dalam rangkaian pembukaan KPMP 2026, dilakukan penanaman bibit pohon secara simbolis sebagai bentuk komitmen bersama terhadap pelestarian lingkungan. Kegiatan ini melibatkan Staf Khusus Menteri Agama bersama unsur Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Gowa, Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan, serta unsur lembaga yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan menjelaskan bahwa KPMP merupakan bagian dari pembinaan Pramuka Penggalang dan Penegak di lingkungan madrasah. Peserta mengikuti kegiatan yang diarahkan pada pengembangan kepemimpinan, kemandirian, kerja sama, literasi digital, keterampilan abad ke-21, serta penguatan nilai moral dan spiritual.

Menurutnya, perkemahan tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas di alam terbuka, mendirikan tenda, atau mengikuti perlombaan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi sarana pembentukan generasi yang mampu menghadapi perkembangan zaman dengan karakter yang kuat dan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat.

Pembukaan KPMP 2026 turut dihadiri Asisten I Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Wakil Bupati Gowa, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan, Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi Maluku, Kepala Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup, jajaran Kanwil Kemenag Sulsel, para Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota se-Sulawesi Selatan, pembina, pendamping, serta tamu undangan.

Melalui pendidikan karakter dan ekoteologi, KPMP 2026 diharapkan memberi pengalaman nyata kepada generasi madrasah untuk memahami hubungan antara keimanan, tanggung jawab sosial, kebangsaan, dan kelestarian alam. Nilai-nilai yang diperoleh selama perkemahan diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan berakhir, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pendekatan tersebut, Pramuka Madrasah diarahkan menjadi ruang pembinaan generasi muda yang berakhlak, mandiri, mampu bekerja sama, menghargai perbedaan, mencintai bangsa, serta memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*