Dari As’adiyah hingga McGill, Modal Pendidikan Nasaruddin Umar Sulit Ditandingi di Bursa PBNU

JAKARTA — Di tengah persaingan menuju kursi Ketua Umum PBNU, setiap kandidat membawa kekuatan berbeda. Ada yang bertumpu pada genealogis pesantren, pengalaman struktural, jaringan politik, hingga kemampuan bisnis. Namun, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. menawarkan pembeda yang lebih utuh: kesinambungan antara pendidikan pesantren, prestasi akademik, kepemimpinan perguruan tinggi, dan pengalaman internasional.

Nasaruddin tumbuh sebagai santri As’adiyah Sengkang, menempuh Madrasah Ibtidaiyah hingga Pendidikan Guru Agama. Fondasi pesantren itu kemudian diperkaya melalui pendidikan Fakultas Syariah IAIN Alauddin Makassar, tempat ia meraih predikat Sarjana Teladan. Pendidikan doktoralnya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta diselesaikan sebagai alumni terbaik sebelum dikukuhkan menjadi Guru Besar Tafsir pada 2002.

Keunggulannya tidak berhenti pada gelar. Nasaruddin pernah menjadi visiting student di McGill University, Kanada, dan Leiden University, Belanda, serta mengikuti sandwich program di Paris. Rekam tersebut memberinya kemampuan mempertemukan kitab kuning, metodologi akademik, dan dinamika peradaban global.

Dibandingkan para pesaingnya, kekuatan Nasaruddin terletak pada kelengkapan ekosistem kepemimpinan pendidikan. Ia bukan hanya pernah belajar di pesantren, tetapi kembali memimpin Pengurus Pusat Pondok Pesantren As’adiyah dengan jaringan sekitar 320 cabang. Ia juga memimpin PTIQ sejak 2005 dan mengembangkan gagasan Kampus Peradaban Qur’ani Internasional.

Di As’adiyah, kepemimpinannya terlihat melalui modernisasi tata kelola, penataan kawasan pendidikan, penguatan Ma’had Aly, pembangunan asrama, serta internasionalisasi Musabaqah Qira’atil Kutub. Pembaruan itu dijalankan tanpa mencabut akar tradisi pesantren.

Karena itu, kontestasi PBNU semestinya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang paling kuat dukungannya, melainkan siapa yang paling siap menyiapkan generasi ulama berikutnya. Nasaruddin menghadirkan figur santri, profesor, peneliti, rektor, dan pemimpin pesantren dalam satu rekam pengabdian.

Dengan tetap menghormati kapasitas seluruh kandidat, modal pendidikan Nasaruddin menawarkan arah politik yang substantif: PBNU sebagai rumah besar kaderisasi, riset, integritas akademik, teknologi, dan peradaban Islam dunia. Bukan sekadar memimpin organisasi, tetapi mendidik NU menghadapi masa depan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*