Gagasan Nasaruddin Umar: NU Menjadi Episentrum Peradaban Dunia

Jakarta – Pergeseran lanskap geopolitik dan sosial-keagamaan global dewasa ini makin mempertegas posisi strategis Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Di tengah dinamika konflik kawasan Timur Tengah dan ketidakstabilan ekonomi di berbagai negara, Indonesia muncul sebagai kandidat utama episentrum baru peradaban Islam modern.

Pesan strategis ini ditegaskan oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A., saat menghadiri Silaturahim Nasional Majelis Alumni IPNU pada tanggal 7 Agustus 2026. Menurutnya, peradaban Islam dunia memerlukan pangkalan pendaratan (landing pad) baru yang aman, stabil, dan dinamis, di mana Nahdlatul Ulama (NU) memegang peran kunci.

Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa fenomena globalisasi dan migrasi telah menghapus batas-batas teritorial tradisional (stateless dan deteritorialisasi). Timur Tengah, yang selama ini menjadi pusat sejarah dan pemikiran Islam, kini menghadapi tantangan berat akibat konflik berkepanjangan dan krisis kemanusiaan.

“Timur Tengah sudah melahirkan Islam, tapi estafet untuk melanjutkan peradaban Islam masa yang akan datang adalah harus bergeser jauh dari pusat konflik… dan itulah Indonesia,” tegas Nasaruddin Umar.

Ia menambahkan bahwa stabilitas ekonomi dan politik Indonesia menjadi modal utama. Pertumbuhan ekonomi nasional yang terjaga serta tingkat inflasi yang terukur memberikan fondasi kuat bagi tumbuhnya pusat studi dan kebudayaan Islam dunia. Kondisi ini berbeda dengan beberapa kawasan di Timur Tengah yang energinya tersedot oleh isu pengungsi dan ketegangan politik.

Ketika berbicara tentang Indonesia sebagai wadah peradaban Islam, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar seperti NU memiliki peran pivotal. Namun, menurut Prof. Nasaruddin, tantangan terbesar bagi NU di abad ke depannya adalah kesiapan kepemimpinan dan kapasitas organisasi dalam skala global.

“Pertanyaannya adalah, siapkah NU untuk menjadi tuan rumah untuk episentrum peradaban Islam? … Diperlukan pemimpin NU nanti ke depan yang bisa punya wawasan internasional, yang punya kemampuan intelektual yang setara dengan para pemimpin dunia,” ujarnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, kepemimpinan masa depan tidak cukup hanya mengandalkan aspek figuratif atau karisma semata, melainkan memerlukan perpaduan antara visi strategis dan tata kelola yang profesional.

“Yang diperlukan masa depan itu adalah kombinasi macro-management dan micro-management. Orang yang punya teori yang besar tapi juga punya pengalaman praktis… Kepemimpinan NU yang akan datang masa transisinya adalah diharapkan orang ngerti macro-management dan micro-management, punya pengalaman riil nasional, internasional,” tambah Prof. Nasaruddin.

Di akhir pemaparannya, Prof. Nasaruddin Umar mengajak seluruh elemen dan kader NU—termasuk alumni IPNU, IPPNU, serta badan otonom lainnya—untuk meninggalkan sekat-sekat primordialisme dan berfokus pada kontribusi nyata bagi peradaban. Ia menekankan pentingnya menjaga kesejukan dan kedewasaan di dalam iklim organisasi.

“Siapapun nanti yang terpilih ke depan kita harus dukung. Siapapun yang bersedia untuk menjadi calon harus juga dengan legowo bersedia untuk tidak berhasil, ya. Jangan hanya kita siap untuk menang tapi tidak siap untuk kalah,” pesannya.

Dengan memperkuat wawasan internasional, tata kelola organisasi yang efektif, serta kebersamaan internal, gagasan untuk menjadikan NU sebagai episentrum peradaban dunia bukan lagi sekadar harapan, melainkan keniscayaan sejarah yang sedang dipersiapkan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*