Menag Nasaruddin Umar: Muktamar Adalah Ruang Musyawarah dan Kebijaksanaan Para Kiai

Jombang, – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., mengajak seluruh elemen Nahdlatul Ulama menjaga keteduhan, persatuan, dan kehormatan Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.

Menurut Nasaruddin, Muktamar bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan, melainkan ruang musyawarah tertinggi untuk merumuskan arah pengabdian NU pada masa mendatang. Karena itu, seluruh tahapan harus ditempatkan dalam tradisi pesantren yang menjunjung adab, kebijaksanaan para kiai, persaudaraan, dan kemaslahatan jam’iyah.

“Muktamar adalah ruang musyawarah dan kebijaksanaan para kiai. Semua pihak harus menjaga keteduhan, menghormati muktamirin, serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengambil keputusan secara merdeka dan bertanggung jawab,” ujar Nasaruddin.

Ia menilai perbedaan pandangan dan pilihan merupakan bagian wajar dari dinamika organisasi. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh berkembang menjadi ketegangan, saling merendahkan, maupun perpecahan yang dapat mengganggu persaudaraan Nahdliyin. Muktamar harus memperlihatkan kedewasaan NU sebagai organisasi keagamaan dan kebangsaan yang telah memasuki abad kedua.

Nasaruddin juga mengingatkan pentingnya menjaga independensi para pemilik suara. Muktamirin harus memperoleh ruang yang tenang untuk mempertimbangkan kebutuhan organisasi, tantangan umat, dan kualitas kepemimpinan yang diperlukan NU. Keputusan tidak semestinya dipengaruhi tekanan, kepentingan sesaat, mobilisasi berlebihan, ataupun intervensi dari luar mekanisme organisasi.

Baginya, kehormatan Muktamar terletak pada proses yang jujur, terbuka, dan berlandaskan akhlakul karimah. Siapa pun yang dipercaya memimpin PBNU nantinya harus dipandang sebagai hasil musyawarah bersama dan diterima dengan kelapangan hati oleh seluruh keluarga besar NU.

Sebagai Menteri Agama, Nasaruddin tetap menaruh perhatian pada terpeliharanya kehidupan keagamaan yang damai dan produktif. Ia berharap Muktamar melahirkan keputusan yang memperkuat pesantren, pendidikan, pelayanan umat, kemandirian ekonomi, moderasi beragama, serta kontribusi NU bagi perdamaian dunia.

Ia mengajak para pendukung seluruh figur menahan diri dan mengutamakan kepentingan organisasi. Dukungan kepada tokoh tertentu tidak boleh menghapus penghormatan kepada tokoh lainnya.

Nasaruddin menegaskan bahwa marwah NU jauh lebih besar daripada kepentingan pribadi, kelompok, atau jabatan. Kemenangan sejati Muktamar adalah terjaganya persatuan dan kepercayaan warga bersama.

“Mari menjadikan Muktamar sebagai teladan bahwa perbedaan dapat dikelola melalui musyawarah, adab, dan persaudaraan. Setelah keputusan ditetapkan, seluruh kekuatan NU harus kembali bersatu, mendukung kepemimpinan hasil Muktamar, dan melanjutkan pengabdian kepada umat, bangsa, serta kemanusiaan,” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*