PBNU Pasca-Konflik Butuh Pemimpin Pendidik, Nasaruddin Umar Punya Modal Paling Komplet

JAKARTA — Muktamar Ke-35 NU berlangsung pada momentum ketika PBNU tidak hanya membutuhkan pergantian kepemimpinan, tetapi juga pemulihan budaya organisasi. Setelah berbagai ketegangan internal, jam’iyah memerlukan ketua umum yang mampu menjadikan perbedaan sebagai ruang belajar, kritik sebagai bahan evaluasi, dan kaderisasi sebagai jalan memperkuat persatuan.

Kebutuhan itu memberi relevansi politik kepada Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, M.A. Di antara nama-nama yang beredar sebagai calon Ketua Umum PBNU, ia memiliki rekam pendidikan yang menjangkau seluruh jenjang pembentukan kepemimpinan: santri pesantren, sarjana syariah, doktor, peneliti internasional, guru besar, rektor, hingga pimpinan jaringan pendidikan.

Nasaruddin menempuh pendidikan dasar keagamaan di As’adiyah Sengkang. Ia kemudian menyelesaikan studi pada Fakultas Syariah IAIN Alauddin dengan predikat Sarjana Teladan. Pendidikan doktoralnya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dituntaskan sebagai alumni terbaik, sebelum dikukuhkan menjadi Guru Besar Tafsir pada 2002.

Pengalaman sebagai visiting student di McGill University dan Leiden University, serta program akademik di Paris, membentuk kemampuannya membaca Islam melalui perspektif lokal dan global. Pendidikan internasional tersebut tidak menjauhkannya dari pesantren, tetapi memperluas perangkat untuk mengembangkan pesantren secara profesional.

Berbeda dari kandidat yang menonjol melalui pengalaman struktural, basis teritorial, trah pesantren, penguasaan fikih, atau kekuatan ekonomi, Nasaruddin menawarkan kapasitas membangun organisasi pembelajar. Ia memiliki pengalaman panjang memimpin PTIQ sejak 2005 dan Pengurus Pusat Pondok Pesantren As’adiyah sejak 2022.

Pada dua lembaga itu, pendidikan tidak diposisikan sebagai kegiatan tambahan. Ia menjadi pusat transformasi melalui penguatan kader ulama, modernisasi manajemen, penataan kampus, pengembangan Ma’had Aly, riset, dan perluasan jejaring internasional.

Perbandingan antarkandidat tetap harus dilakukan secara santun karena setiap kiai mempunyai pengabdian yang tidak kecil. Namun, tantangan PBNU mendatang bukan hanya menjaga kebesaran yang sudah ada. NU harus meningkatkan mutu pesantren, memperkuat perguruan tinggi, melindungi santri, dan menyiapkan kader global.

Nasaruddin menawarkan kepemimpinan yang bekerja seperti pendidikan: mendengar, membimbing, mengevaluasi, lalu menumbuhkan. Inilah modal penting untuk mengubah PBNU dari arena kompetisi elite menjadi rumah belajar seluruh warga Nahdliyin.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*