Saatnya NU Kembali Teduh, Nasaruddin Umar Tekankan Kepemimpinan yang Menyatukan

Jakarta, – Menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama 2026, dinamika internal organisasi menjadi bagian penting dari evaluasi perjalanan NU. Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. menyampaikan perlunya kepemimpinan yang mampu merawat kebersamaan, membuka ruang komunikasi, serta mempertemukan berbagai unsur jam’iyah dalam agenda organisasi yang sama.

“Dinamika dan konflik elite cukup menjadi pelajaran. NU membutuhkan kepemimpinan yang merangkul, mendengarkan, dan mempersatukan seluruh kekuatan jam’iyah demikian pesan Nasaruddin Umar.

Pandangan tersebut menempatkan perbedaan sebagai kenyataan yang wajar dalam organisasi besar seperti NU. Persoalannya bukan pada ada atau tidaknya perbedaan, melainkan bagaimana aspirasi dan kepentingan yang beragam dikelola melalui mekanisme organisasi, musyawarah, serta komunikasi yang terbuka.

Dalam kerangka itu, tiga prinsip yang ditawarkan adalah merangkul, mendengarkan, dan mempersatukan. Merangkul berarti memberikan ruang kepada berbagai unsur NU untuk terlibat dalam kehidupan organisasi. Mendengarkan menuntut adanya komunikasi dua arah antara kepemimpinan dan struktur di berbagai tingkatan. Adapun mempersatukan berarti mengarahkan keragaman pandangan menuju kepentingan bersama.

Pendekatan tersebut relevan dengan karakter NU yang memiliki basis sosial luas, mulai dari ulama, pesantren, pengurus wilayah dan cabang, badan otonom, lembaga, kader, hingga warga di tingkat akar rumput. Karena itu, kualitas hubungan antarelemen organisasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesinambungan program dan pelayanan kepada umat.

Muktamar Ke-35 NU dapat menjadi ruang untuk melakukan konsolidasi sekaligus menentukan arah organisasi ke depan. Selain menjalankan agenda konstitusional, forum tertinggi NU tersebut memiliki posisi penting untuk mengevaluasi tata kelola, memperkuat hubungan kelembagaan, dan memastikan energi organisasi tidak tersita oleh persoalan internal yang berkepanjangan.

Pesan “Saatnya NU Kembali Teduh” karena itu tidak diarahkan untuk menghilangkan perbedaan. Keteduhan justru ditempatkan sebagai kemampuan organisasi menyelesaikan perbedaan secara dewasa, menjaga komunikasi, dan mengutamakan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan kelompok.

Dalam jangka panjang, konsolidasi internal diharapkan memberi ruang lebih besar bagi NU untuk menjalankan agenda keumatan, pendidikan, pesantren, sosial, kebangsaan, dan pengembangan peradaban. Semangat “Ulama, Peradaban, Dunia” menjadi pengingat bahwa kekuatan internal organisasi merupakan salah satu pijakan bagi kontribusi NU yang lebih luas di Indonesia maupun dalam pergaulan global.

Momentum Muktamar Ke-35 NU pada akhirnya diharapkan menghasilkan kepemimpinan yang mampu menjaga keseimbangan antara dinamika internal dan tanggung jawab pelayanan umat. Dengan komunikasi yang terbuka dan orientasi pada kepentingan bersama, NU dapat melanjutkan perannya sebagai jam’iyah yang menyatukan keragaman sekaligus tetap responsif terhadap perubahan zaman.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*