Menyusuri Jejak Wali Bersama Gus Dur, Nasaruddin Umar Tawarkan Kepemimpinan NU yang Berakar dan Mendunia

JAKARTA — Hubungan Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, M.A. dengan KH Abdurrahman Wahid menyimpan dimensi yang jarang hadir dalam pembicaraan politik menjelang Muktamar Ke-35 NU: perjalanan bersama menelusuri akar spiritual Islam Nusantara. Pengalaman itu menjadi modal pembeda bagi Nasaruddin dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.

Nasaruddin pernah beberapa kali mendampingi Gus Dur menziarahi makam ulama. Salah satu perjalanan paling berkesan berlangsung ketika keduanya menuju makam Syekh Jamaluddin di Tosora, Wajo, Sulawesi Selatan. Medan yang dipenuhi batu besar membuat perjalanan pertama mereka terhenti dan kendaraan mengalami kerusakan. Keduanya kembali pada kesempatan berikutnya menggunakan kendaraan yang lebih sesuai hingga berhasil mencapai makam tersebut.

Saat lokasi itu belum dikenal luas, Gus Dur menyebut Syekh Jamaluddin sebagai guru sejati para Wali Songo. Dalam perkembangan berikutnya, makam tersebut dikunjungi masyarakat, termasuk peziarah dari Malaysia. Nasaruddin menjadi saksi langsung bagaimana intuisi sejarah, kedalaman spiritual, dan keluasan jaringan kebudayaan Gus Dur mampu menghubungkan sebuah desa di Sulawesi dengan memori besar penyebaran Islam di Nusantara.

Pengalaman itu membentuk pelajaran kepemimpinan yang penting. NU tidak dapat dipimpin hanya melalui penguasaan administrasi dan panggung politik. Pemimpinnya harus memahami sanad, menghormati ulama terdahulu, mengenali keragaman daerah, serta mampu menjelaskan warisan Islam Nusantara kepada dunia.

Nasaruddin kemudian meneruskan perhatian tersebut melalui forum keagamaan dan jaringan internasional. Pada Konvensyen Masjid Nusantara di Kelantan, Malaysia, ia membawa gagasan masjid sebagai pusat tamadun ilmu. Pandangannya menempatkan masjid bukan sebatas bangunan peribadatan, tetapi pusat pembentukan manusia, pengetahuan, dan kebudayaan.

Di sinilah hubungan dengan Gus Dur memperoleh makna politik. Nasaruddin tidak hanya mengenang pemikiran Gus Dur dari buku atau pidato, tetapi pernah menyertainya membaca jejak peradaban langsung dari situs, masyarakat, dan tradisi yang hidup.

Bagi NU, rekam tersebut menawarkan kepemimpinan yang tidak tercerabut dari akar ketika bergerak secara global. Nasaruddin membawa pesan bahwa masa depan jam’iyah harus dibangun dengan menggali khazanah ulama, memperkuat kebudayaan lokal, dan menghubungkannya dengan percakapan dunia. Ia menawarkan PBNU yang pulang kepada sanad untuk melangkah lebih jauh menuju peradaban.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*